SEBENARNYA MUNAFIQ
SEBENARNYA MUNAFIK
Oleh Irfan Yasir
Dalam konteks kehidupan kekinian khususnya di media sosial mumcum sebuah realita dimana begitu mudahnya orang memuji dan menghina anehnya mereka mengapresiasi suatu hal yang sebenarnya tak terpuji dan kadang sebaliknya menghina sesuatu yang sebetulnya terpuji
Sungguh aneh! Ketika seseorang dimedia sosial tanpa ada yang minta ia memberikan pengakuan atas sebuah pelanggaran norma kuhususnya norma agama yang dilakukan, dengan nada datar tanpa penyesalan bahkan seolah bangga dan terkesan menyepelekan dengan dosa yang diperbuatnya, mungkin karna dia merasa spesial dengan popularitas yang dimilikinya, yang terjadi justru para netizen mengapresiasinya, menghujaninya dengan pujian ,dia jujur lah, lugas lah,tidak munafik lah, bla bla bla
Yang membuat saya berpikir keras adalah kenapa tiba tiba membandingkan dengan ketidak munafikan? Bagimana bisa menilai sebuah dosa yang disertai dengan kesombongan sebagai kebaikan? Korelasinya dimana? Logikanya analoginya bagaimana?
Seiring dengan itu hal kontradiktifpun terjadi begitu mudahnya kata munafiq terlontar dari lisan seseorang kepada orang lain padahal orang yang dituju adalah saudaranya seiman
Bila seseorang yang sedang belajar istiqomah dalam hijrahnya dia tutup auratnya, ia jaga lisannya, ia tingkatkan amal shalihnya namun qodarulloh sebuah aib masa lalu yang mestinya tertutup rapat, diluar kuasanya tiba tiba terekspos dan menjadi pembicaraan publik. Lalu kata kata bulying tertuju ladanya tak luput title munafik terlontar kepadanya tanpa klarifikasi tanpa husnudlon tanpa permakluman sama sekali. dalam kondisi seperti ini bila yang bersangkutan sabar sungguh ujian ini akan meninggikan derajatnya.
Untuk dapat mengurai benang kusut dari situasi ini yuk kita kembalikan munafik ini pada pengertian yang seseungguhnya menurut Alquran karena Munafiq adalah salah satu typologi manusia dalam islam yang Alloh sebutkan kriterianya dibanyak seperti pada firmannya diantaranya Al-Baqoroh 8-11
Kriteria munafiq dalam ayat tersebuyi sebagai berikut
1. Mengaku beriman padahal tidak.
2. Menipu Allah dan mukminin, padahal menipu dirinya sendiri
3. Hati mereka berpenyakit, lalu Alloh penyakit-ya.
4. mereka kelak disiksa dengan sangat pedih akibat kedustaannya
5.Merasa berbuat perbaikan padahal kerusakanlah yang diperbuatnya
Hal yang paling mengetarkan terkait munafik ini adalah balasan kelak diakhirat
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ
Artinya: Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka
Melalui ayat ini Alloh informasikan bahwa kemunafikan itu puncak kemaksiatan sehingga orang munafik adalah seburuk buruk manusia karena kaum munafik bermaksud menipu bahkan menipu Alloh dengan selalu menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan.
Memang! Kata munafik itu tidak selalu merujuk pada mereka yang berpura-pura Islam yang sebenarnya hati mereka mengkafirinya. ketika disebut munafik bisa juga hanya merujuk pada sipat atau sikap kemunafikan yang kadang ada pada diri seorang beriman
Sebagaimana dalam hal ini para ulama membagi munafik ini kedalam dua kelompok yaitu bemengkafirinyan akidah; jenis ini memastikan pelakunya kelak di dalam neraka. Kedua yang berkaitan dengan perbuatan, jenis ini merupakan salah satu dari dosa besar,
JENIS JENIS KEMUNAFIKAN
Nifaq I'tiqadi (Keyakinan). Yaitu nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak Neraka.
Nifaq jenis ini ada 4 macam, yaitu:
1.Mendustakan Rasulullah saw. atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.
2. Membenci Rasulullah atau membenci sebagian apa yang beliau bawa. 3.Merasa gembira dengan kemunduran Islam.
4.Tidak senang dengan kemenangan Islam.
Nifaq 'Amali (Perbuatan). Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi merupakan washilah (perantara) kepada yang demikian.
(1)Jika dipercaya ia berkhianat, (2)Jika berbicara ia berdusta,
(3)jika berjanji ia memungkiri, dan (4)jika bertengkar ia melewati batas.
Terlepas dari maksud mereka saat melontarkan kata munafiq pada orang lain entah munafiq yang mana, toh kesemua itu adalah celaan dan hinaan yang tak diragukan lagi kemaksiaatannya, sebuah dosa yang harus kita tinggalkan
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
“Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk)” (QS Al-Hujuraat 11)
Dan untuk orang yang bangga dengan pengakuan sebuah dosa dimedia sosial Sadarilah selain anda membuka aib anda juga sedang membangun lumbung dosa jariyah karena dengan itu anda sedang berupaya melegalkan sebuah dosa karena akan ada banyak orang berpikir bahwa dosa seperti itu lumrah untuk dilakukan
وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Dan barangsiapa yang membuat (mempelopori) perbuatan yang buruk dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim no. 1017).
Dan untuk orang orang yang dengan mudahnya menyematkan munafiq pada orang lain jagalah lisan anda, coba berfikir lebih dalam manakah yang lebih munafik apakah seseorang yang sedang berproses hijrah namun terjebak aib masa lalu ataukah orang yang bangga dengan pengakuan sebuah dosa ataukah anda sedang mempertonto kan kemunafikan diri sendiri dengan memuji hal yang tak terpuji dan mencela hal yang sebenarnya terpuji
Terakhir, Untuk menegaskan hal diatas berikut ini surat Al-hujurot ayat 11 secara utuh penulis kutip
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim (al-Hujurot 11)
Komentar
Posting Komentar