KARYA SHOLEH

Oleh Irfan Yasir

KARYA SHOLEH
Oleh Irfan Yasir

Kata "berkarya" belumlah cukup menggambarkan nilai kebaikan dari suatu aktivitas Karena syetan dan nafsupun berkarya bahkan lebih nyata hingga menghasilkan gelar bagi mereka yaitu musuh yang nyata

Seperti Kata "positif" yang tak cukup pula untuk menggambarkan baiknya sebuah karya karena positif itu bisa positif baik bisa juga positif buruk

Begitupun Kata "baik" belum cukup untuk memastikan keberadaan manfaat Dari suatu karya karena terkadang kebaikan itu relatif dan subjektif, baik bagi seseorang! namun tidak buat yang lainnya

Lantas ukuran apa sebetul dan seharusnya untuk sebuah karya?

Jawabnya adalah sholih, karya yang sholih, Keshalihan sebuah karyalah yang dapat menghimpun seluruh jenis dan tingkatan kebaikan

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar(Al-Isro)

Bagi seorang beriman amal sholeh itu adalah keniscayaan bukan pilihan karena sejatinya iman Dan amal sholeh itu tak terpisah seperti kata iman dan amal itu sendiri yang selalu berdampingan dihampir semua ayat Quran tentang keimanan karena apabila salah satu dari keduanya tiada maka kesempurnaan dari salah satunya akan berkurang.

Iman tanpa amal itu hampa sedangkan amal tanpa iman itu percuma. Iman adalah fondasi sedangkan amal adalah implementasi.

Hal ini terlihat dari sabda Nabi SAW: “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani).

Allah ta’ala menjanjikan bagi siapa saja yang menggabungkan antara iman dan amal shaleh akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia maupun akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl : 97 :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(QS. An-Nahl:97)

KARYA SHOLEH ITU TAK MENUNGGU VIRAL

Sebuah karya jika taqdirnya harus masyhur lalu menjadi viral dengan segala konteks kekiniannya tentu popularitas bukanlah menjadi tujuan

Karena sejatinya kebaikan itu adalah hal yang masyhur dan manusia butuh kebaikan untuk menjadi baik tidakkah kita perhatikan keviralan orang orang sholih terdahu yang selalu masyhur hingga detik ini bahkan lebih dari itu nama nama mereka telah melekat dihati lalu mempengaruhi dan keviralan mereka itu berproses sampai kini tanpa media apalagi teknologi

Sejujurnya kitapun tahu bahwa Ketenaran itu bisa merampas “Kemerdekaan” diri. Dalam arti kita akan kehilangan privasi yang lebih, di mana-mana akan diperhatikan orang, di mana-mana akan doa sorot orang dan tingkah laku kita bisa jadi diperbincangkan. Inilah yang disebut berkurangnya atau hilangnya “kemerdekaan diri”.

Asy-Syathibi rahimahullah berkata,

آخر الأشياء نزولا من قلوب الصالحين : حب السلطة والتصدر !

“Hal yang paling terakhir luntur dari hatinya orang-orang shalih: cinta kekuasaan dan cinta eksistensi (popularitas)”[2]

Jangan kita terbuai oleh bayang bayang semu tentang dugaan kebaikan pada sebuah keviralan karena kebanyakan dugaan itu adalah keburukan

Semoga Alloj SWT titipkan keikhlashan dalam hati kita pada setiak karya karya kita yang jauh Dari kata sempurna

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RISALAH MAUT

KI KD 3.1 3.4 KELASIFIKASI PRODUK PERBANKAN SYARIAH

TERNYATA MEREKA TERNYATA