Aktiva Akhirat
Oleh Irfan Yasir
Dibalik sebuah pintu mestilah ada suatu tempat yang terhubung dengannya karena fungsi pintu memang untuk keluar masuk atau berpindahnya sesuatu dari dan ke suatu tempat
jika kematian adalah pintu maka dialah pintu penghubung dua negri yaitu dunia dan akhirat, kedua negri itu Sangat kontras berbeda jika dunia adalah tempat bekerja maka akhirat tempat mengeyam jika dunia tempat menanam maka akhirat tempat memanen jika dunia tempat sandiwara maka akhirat tempat ternyata
Namun, baik dunia maupun akhirat saat mengembarai keduanya diperlukan perencanaan serta perbekalan untuk dapat melangsungkan kehidupan didalamnya,jika perbekalan dunia diper siapkan di dunia namun tidak sebaliknya dengan akhirat, bekal akhirat tidaklah disiapkan diakhirat melainkan sama sama didunia fana ini
lantas apakah bekalan utuk menjalani kehidupan negri akhirat? jawabnya adalah amal sholeh, dialah jawaban atas segala misteri akhirat penenang atas segala huru hara didalamnya serta cahaya ditengah gelapnya alam kubur
Dari anas bin Malik radhiyallahu‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)
jika boleh kita umpamakan amal sholeh itu laksana Aset atau aktiva dalam istilah akuntansi, Aset adalah semua sumber ekonomi atau nilai suatu kekayaan oleh suatu entitas tertentu yang diharapkan memberikan manfaat usaha di kemudian hari begitupun amal sholeh buah dari amal soleh ini kelak menjadi sumber daya yang dimiliki atau dikendalikan seseorang dengan harapan menghasilkan kenikmatan kenikmatan haqiqi di surga Milik Alloh aza wajalla
Mengenai aset dala bahasan akuntansi ada tiga sifat utama dari aset yaitu kepemilikan,Nilai ekonomi dan sumber daya ketiganya relevan jika diterapkan dalam amal sholeh mari kita renungi satu persatu
1. Amal sholeh sebagai Kepemilikan sejati
Sesuatu yang kita anggap rizqi dihidup
ini masih terlalu luas untuk dikatakan sebagai milik karena kata rizqi itu selain masih mencakup yang halal dan haram juga rizqi itu tak jarang hanya berakhir dipembuangan dari sejumlah uang yang dimiliki terkadang dibelanjakan untuk koleksi barang duniawi yang tidak bermanfaat maka ini bukan milik yang sejati namun sepeser uang yang di dibelanjakan fi sabilillah itulah milik yang sejati
dari sepiring nasi yang dimakan jika energi yang dihasilkannya hanya sebatas penyambung hidup tanpa ada kebaikan ukhrowi yang diperbuat maka itu bukan milik kita namun disaat energi tersebut digunakan untuk beramal sholeh maka sepiring nasi itulah milik kita yang sejati
2. Amal sholeh sebagai Nilai tukar
jika dalam akuntansi Aset memiliki nilai ekonomi dan dapat ditukar atau dijual maka buah dari amal sholeh kelak akan menjadi alat tukar atau alat bayar bukankah nabi telah mengabarkan tentang penyelesaian hutang piutang jika tak terbayar didunia?
Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.(HR bukhori)
Demikian keadaan orang yang mati dalam keadaan berhutang dan belum juga dilunasi, untuk membayarnya diambil dari pahala amal sholehnya. Itulah yang terjadi ketika hari kiamat karena di sana tidak ada lagi mata uang untuk melunasi hutang tersebut
3. Amal sholeh sebagai Sumber daya di akhirat
Secara singkat sumber daya adalah suatu potensi yang dimiliki oleh materi atau unsur lain dalam kehidupan yang dapat meningkatkan kesejahteraan manusia, potensi senada juga ada pada amal sholeh bukankah Semua amal shalih secara umum menjadi sebab terangnya kubur menjadi sebab luasnya alam barzakh
seperti sabar dan shalat yang kelak menjadi cahaya seperti disebutkan dalam hadits shahih, “Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti nyata, sabar itu sinar, dan Al-Qur’an adalah pembelamu atau penuntutmu.” (HR. Muslim).
juga ikut serta dalam mengaji Al-Qur’an dan belajar ilmu syar’i bisa dijadikan sarana untuk terangnya kubur sebagaimana firman Allah SWT, “Dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (QS. Al-Nisa’: 174).
begitu juga doa shalat jenazah atas mayit juga bisa menjadi sebab diteranginya cahaya kubur seorang muslim seperti ditunjukkan oleh hadits shahih
: عَن أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمّ
ُ الْمَسْجِدَ أَوْ شَابًّا فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ فَقَالُوا مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى ». قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ فَقَالَ « دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهِ ». فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».
Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa seorang wanita hitam atau seorang pemuda biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyinarinya bagi mereka dengan shalatku terhadap mereka.” [HR. Bukhari, Muslim, dll]
Sebagai penutup mari simak sabda nabi berikut ini
أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencela saudaranya,Menuduh tanpa bukti (memfitnah),Memakan harta,Menumpahkan darah orang,Memukul orang lain (tanpa hak). Maka tebusan atas kedzalimannya itu, diberikanlah kebaikannya kepada orang-orang itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim 6522)
Andai saja sifulan dalam sabda nabi diatas memiliki amal sholeh jauh lebih banyak niscaya kebangkrutannya terbantahkan oleh sisa sisa amal sholehnya
Saudaraku!
Sebelum datangnya maut, kewajiban kita di dunia ini mengusahakan amal-amal shalih yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan di alam barzakh, dan akhirat dan pada akhirnya amal sholeh inilah yang kelak mejadikan manusia begitu tenang bahkan seolah rindu pada kematian karena ingin segera menuai kebaikan dari amalnya sholehnya.
Wallohu A'lam Bisshowab
Komentar
Posting Komentar